Tradisi Tato Mentawai: Dihancurkan Secara Sistematis

Suatu hari di bulan Februari 2009. Perlahan matahari yang bulat dan merah tenggelam ke dalam Samudera Hindia. Pantulan cahayanya menjadikan permukaan laut yang tenang berwarna emas keperakan. Tepat pukul 6 sore, kapal KM Pulau Simasin bertolak dari pelabuhan kecil yang terdapat di Batang Arau, Muara Padang, menuju Muara Sikabaluan di pulau Siberut. Pulau Siberut merupakan pulau terbesar dari hamparan kepulauan Mentawai yang terdiri dari 40 pulau. Pulau Siberut terletak di Utara, tiga pulau besar lainnya adalah Sipora di tengah, Pagai Utara dan Selatan yang terdapat di Selatan. Di pulau-pulau itulah suku Mentawai menetap dengan adat dan tradisinya yang unik. Berbeda dengan suku-suku lain yang mendiami pulau tetangganya, Sumatera.

Di dek depan kapal kayu yang mengangkut lebih dari dua ratus penumpang ini, Durga dan Pance Satoko sedang menikmati keindahan panorama alam sambil berbincang-bincang tentang perjalanan yang akan kami tempuh kurang lebih selama 12 jam. Saya tidak menyia-nyiakan momen ini dan langsung merekam frame dem[[[iframe]]] suasana di atas KM Pulau Simasin ke dalam kaset mini DV. Kapal ini ditumpangi penduduk pulau-pulau sekitar, pedagang-pedagang dadakan dengan barang-barang dagangannya; kardus-kardus sembako, keranjang dan karung-karung yang berisi buah-buahan dan sayuran. Di dalam kapal kayu ini juga terdapat beberapa orang turis asing dari Amerika dan Australia, peselancar (surfer) yang sedang berburu ombak ke Mentawai. Konon bagi banyak peselancar, keelokan ombak Mentawai termasuk salah satu yang terindah di dunia.

Tidak seperti leluhurnya dari suku Mentawai, Pance Satoko tidak memiliki tato di tubuhnya dan tidak lagi mempraktekkan ritual-ritual Arat Sabulungan. Arat Sabulungan merupakan satu sistem pengetahuan, nilai dan aturan hidup yang dipegang kuat yang diwariskan oleh leluhur suku Mentawai. Mereka meyakini adanya dunia roh-roh dan jiwa. Setiap benda yang ada, hidup atau mati mempunyai jiwa dan roh seperti manusia. Mereka harus diperlakukan seperti manusia. Karena itu orang-orang tidak boleh menebang pohon sembarangan, tanpa izin panguasa hutan (taikaleleu) serta kesediaan dari roh dan jiwa dari kayu itu sendiri. Untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan dengan dunia roh-roh, manusia dan alam suku Mentawai mempersembahkan berbagai sesaji dan melakukan berbagai ritual.

Pance Satoko adalah mahasiswa akhir Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) jurusan Antropologi Universita Andalas Padang. Ibu Srimulyani yang mengepalai Laboratorium Antropoligi Universitas Andalas merekomendasikan agar Pance Satoko menjadi pemandu dan penerjemah kami. Jurusan Antropologi yang dipimpinya banyak melakukan riset dan penelitian kepulauan Mentawai. Salah satunya adalah di desa Mototonan, di pedalaman Siberut Selatan.

Dengan modal nekat dan kamera hadycam pinjaman, kami sedang memulai sebuah proyek independen yang kami beri nama Mentawai Tattoo Revival atau Kebangkitan Kembali Tato Mentawai. Sebuah proyek yang diprakarasi oleh Durga yang bertujuan membuat dokumentasi tato Mentawai dan melakukan workshop tato dengan sikerei (dukun) rajah yang tersisa di desa Matotonan. Durga pernah belajar di Fakultas Seni Rupa program studi Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogkarta dan kini ia beralih ke seni tato setelah menetap di Los Angeles (LA), Amerika Serikat, antara tahun 2006—2008. Di LA ia terpilih menjadi murid program Tattoo Apprenticeship, berguru dan bekerja untuk Black Wave tattoo studio di LA, secara langsung tiap hari di bawah bimbingan Sua Sulu’ape Freewind. Seorang master tato yang ternama dan dihormati karena menjalankan dan memelihara tradisi tatau (tehnik tato tradisional Tahiti, Samoa, Polinesia). Sua Sulu’ape Freewind pernah hidup di Polinesia dan kerap berkunjung ke suku Dayak Iban di Serawak, Kalimantan.

Durga memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mempelajari motif-motif tato tribal yang ada di Nusantara, seperti yang terdapat pada suku Dayak di Kalimantan, orang-orang yang menetap di pulau Rote dan di kepulauan Mentawai.

Tradisi rajah atau dalam bahasa Mentawai titi merupakan salah satu bentuk pengungkapan jati diri dan identitas orang Mentawai yang telah diwariskan leluhur mereka secara turun-temurun. Tato Mentawai merupakan bentuk seni rupa tradisional yang sangat terkenal di dunia, namun kini di daerah asalnya terancam kepunahannya. Jika kita berkunjung ke pulau Pagai dan Sipora, di sana kita tidak lagi menemukan orang-orang Mentawai yang melanjutkan tradisi tato dan ritual-ritual Arat Sabulungan hanya tinggal carita dari leluhur di masa-masa yang telah berlalu.

Kapal KM Pulau Simasin bergerak dengan kecepatan yang stabil dan kini mulai menembus malam. Leluhur orang Mentawai meninggalkan kisah tentang asal-usal mereka yang datang dari pulau Nias, di sebelah utara kepulauan Mentawai. Adapun nama Mentawai berasal dari “Aman Tawe.”

Konon, dahulu kala Ama Tawe pergi memancing ke laut dan terjadilah badai yang dahsyat sehingga menyeret Ama Tawe dan mendamparkannya di suatu tempat yang asing. Ama Tawe menemukan di pulau yang baru itu tanah yang amat subur. Terdapat banyak sumber makanan. Pohon sagu dan keladi tumbuh sendiri tanpa ada yang menanam dan merawatnya. Kemudian Ama Tawe kembali ke Nias, memutuskan untuk mengajak istri dan anak-anaknya untuk menetap di Mentawai. Keturunan Ama Tawe lah yang mendiami daerah itu dan lama-kelamaan menyebar ke seluruh kepulauan.

Legenda tentang asal-usul suku Mentawai itu meragukan bagi banyak peneliti. Dan para peneliti itupun, dari berbagai hipotesa yang mereka paparkan, belum ada kesepakatan tentang asal-usul suku Mentawai ini. Misalnya Neumann dan Von Rosenberg mengajukan hipotesa bahwa orang Mentawai berasal dari Polinesia. Neuman yakin orang Mentawai adalah sisa orang Polinesia yang terusir oleh kedatangan orang Melayu yang mendominasi pulau Sumetera. Sementara itu, karena berbagai persamaannya dengan suku-suku yang mendiami kepulauan Pasifik, Von Rosenberg menyatakan bahwa suku Mentawai langsung berasal dari Lautan Pasifik (Orao Neptutinuanus).

Adapun dua peneliti lainnya, Mess dan Morris mengungkapkan bahwa orang Mentawai tidak identik dengan orang Melayu dan bahasa Mentawai ada kemiripan dengan bahasa Batak. Dan Dr. Oudemans mengatakan bahwa orang Mentawai serumpun dengan orang Batak dan pulau-pulau Batu di Nias.

Pukul 05.00 KM Pulau Simasin berlabuh di Muara Sikabaluan, Siberut Utara. Lebih cepat satu jam dari yang diperkirakan. Tujuan kami adalah Matotonan di Siberut Selatan yang akan dicapai dari Muara Siberut. Kapal KM Pulau Simasin transit selama 6 jam. Pedagang dadakan menjajakan barang-barang kebutuhan pokok, pangan dan sandang yang dibongkar dari kapal. Kebanyakan pedagang berasal dari Minangkabau dan Inang-inang dari Tapanuli. Mereka menajajakan barang-barang dagangannya selama kapal KM Pulau Simasin transit dan akan mengemasi barang-barang dagangannya jika kapal bertolak ke tujuan selanjutnya.

Selama transit kami tidak menemukan orang-orang Mentawai dengan ciri khas mereka yang mengenakan kabit (cawat) dan tubuhnya yang penuh tato. Menurut Pak Man, seorang pendatang yang menetap di Muara Sikabaluan, tradisi tato dan Arat Sabulungan dilarang oleh Camat Sikabaluan. Jika kita ingin mencari tato di Sikabaluan, kita mesti ke pedalaman Simatalu yang mesti dilewati melalui pesisir utara Samudra Hindia. Dan jika musim badai kapal-kapal kecil tidak ada berani yang melintasi lautnya.

Memang Arat Sabulungan tidak bisa disamakan dengan “aliran kepercayaan” sebab kepercayaan ini sudah ada turun-temurun sejak leluhur suku Mentawai ada pertama sekali. Tetapi kategorisasi yang dibuat pemerintah sejak jaman Presiden Soekarno, memasukkan Arat Sabulungan sebagai bentuk aliran kepercayaan, juga kepercayaan animisme lainnya yang sudah ada pada leluhur bangsa-bangsa di Nusantara. Karena dianggap meresahkan kehidupan beragama, bermasyarakat dan berbangsa, Arat Sabulungan dihapuskan oleh Pemerintah melalui satu kebijakan melalui SK No.167/PROMOSI/1954. Kemudian di Mentawai, Rapat Tiga Agama (1954), mengadakan aksi nyata yang initinya memerintahkan kepada orang Mentawai untuk meninggalkan Arat Sabulungan dengan mememilih satu agama yang diakui Pemerintah. Dan puncaknya terjadi pada jaman Orde Baru Soeharto antara tahun 1970 sampai dengan tahun 1980an, dimana secara represif orang-orang Mentawai dipaksa untuk meninggalkan tradisi tato dan Arat Sabulungan dengan menangkapi mereka yang ketahuan mempraktekkannya dan dengan membakari perangkat-perangkat upacara mereka.

Pukul 11.00 kapal KM Pulau Simasin meninggalkan Muara Sikabaluan. Kami tiba di Muara Siberut sekita pukul 6.00 lewat. Selama perjalan sempat turun hujan yang tidak lebat. Dan dalam perjalanan itu, Durga sempat menato juru mudi kapal Ucok Zae, 25 tahun. Ucok Zae bukan berasal dari Batak, tetapi dari Nias dan ia minta ditato bola api di pergelangan kakinya. Mungkin inilah satu-satunya peristiwa di dunia, di mana seorang juru mudi kapal ditato sambil mengemudikan kendali kapal. Dan setiba di pelabuhan Maileppet, Muara Siberut, Bang Roby kontak yang direkomendasikan Ibu Srimulyani dari Laboratorium Antropologi Universitas Andalas menjemput kami. Bang Roby memiliki warung makan dan pondok sederhana tempat kami istirahat dan bermalam. Esoknya Bang Roby dan Rinaldi Samoanpora akan membawa kami menyusuri sungai dengan perahu bot milik menuju ke desa Mototonan.

Setelah berbelanja berbagai kebutuhan selama di pedalaman kami mulai menyusuri sungai-sungai yang bercabang menuju ke Matotonan. Sepanjang perjalanan kami menyaksikan ibu-ibu dan anak-anak perempuan yang mencari lokan di sungai, berpapasan dengan pompong (perahu tradisional dengan mesin tempel) hilir mudik dari sepanjang sungai.

Pemberhentian pertama kami adalah di desa Rorogot yang dihuni kira-kira 30 KK. Kami menyantap bekal yang tadi pagi dibungkuskan ibunda Bang Roby di rumah panggung pinggir sungai milik Markus Tuamasin. Di bawah rumah panggung, tempat kami beristirahat terdapat kandang babi yang berlumpur serta bercampur dengan kupasan kulit-kulit pinang yang telah membusuk. Sambil menyantap bekal, kami berbincang-bincang dan merokok bersama dengan tuan rumah. Rupanya turis-turis dan para peneliti asing yang sering mampir ke desa Rogrogot sering memberi uang jika berfoto bersama. No money no foto. Begitulah istilah mereka. Seuasai makan dan istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan dengan mengurungkan niat untuk berfoto bersama.

Semakin ke hulu sungai semakin dangkal, sehingga kira-kira pukul 14.30 kami mesti berhenti di desa selanjutnya, di Madobag. Pance Satoko memiliki kakak sepupu yang mendapat penugasan untuk mengajar di SMP Negeri setempat. Bang Roby menitipkan mesin boatnya di rumah kakaknya Pance dan mencarikan dua pongpong yang akan mengangkut kami menyusuri hulu sungai Matotonan yang semakin dangkal.

Matotonan adalah tanaman kecombrang, kincrung atau onje. Tanaman yang buahnya terasa asam ini merupakan tanaman obat bagi suku Mentawai dan bunganya dikonsumsi sebagai sayuran. Sepanjang perjalanan menyusuri hulu sungai hingga sampai di Matotonan memang tanaman kecombrang dan bambu mendominasi, dan di kawasan muara di dekat pantai adalah berawa-rawa dan di penuhi pohon-pohon sagu.

Medan yang kami tempuh dengan pompong ini semakin sulit. Sesekali perahu oleng dan menabrak bongkah-bongkah pohon, kandas di bebatuan karena air sungai yang dangkal, bahkan salah satu pongpong sempat sekrup baling-balingnya copot dan baling-balingnya patah menghantam batu. Untung saja ada baling-baling cadangan.

Melalui berbagai medan yang berat, menjelang gelap akhirnya kami tiba di desa Matotonan. Kami disambut penduduk setempat dengan hangat dan kami menginap di salah satu rumah di sebelah rumah kepala desa Matotonan. Kepala desa Matotonan bernama Christinus Basyir. Dari namanya kita tahu bahwa ketika kecil dulu dia pernah dibaptis. Setelah dewasa pindah ke agama Islam, dari situlah nama Basyir ia dapatkan. Sementara orang-tuanya yang masih hidup, masih menganut kepercayaan Arat Sabulungan, bertato, berburu dan memelihara babi. Rumah yang kami tempati ini adalah Pos Dinas Sosial, di mana Ibu Srimulyani juga menjadi salah seorang konsultannya.

Biarpun masyarakat menyambut kami dengan hangat, ternyata respon mereka sangat beragam, misalnya ada yang mencurigai kedatangan kami, bahkan ada yang meminta uang jika kami ingin mendokumentasikan tato yang masih tersisa. Tetapi setelah Pance menjelaskan maksud kedatangan kami, akhirnya mereka mengerti dan banyak dari mereka yang ingin di tato. Selain mendokumentasikan dan mecatat ulang desain-desain yang ada di Matotonan, kami juga menawarkan kepada mereka untuk melanjutkan tato mereka yang belum selesai dengan mesin yang kami bawa. Di desa Matotonan tinggal seorang sipaniti (pembuat tato), Tegora Manai. Ia menato untuk yang terakhir kalinya kira-kira sepuluh tahun yang lalu dan kini ia sudah mengalami kerabunan.

Sambil menikmati kopi dan rokok, malam itu juga Durga mendiskusikan beberapa desain tato Mentawai yang kami fotocopy dari buku-buku yang tersedia. Ternyata setiap wilayah memiliki ciri khas tato yang tidak sama dengan wilayah suku lainnya. Pengetahuan ini belum kami dapatkan pada bahan-bahan bacaan yang kami punya.

Dulu orang Mentawai membuat tato di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, yang hanya dilakukan oleh sikerei dan orang yang bersangkutan. Hal ini menyebabkan generasi muda juga jarang yang menyaksikan proses pembuatan tato dan mereka enggan mempelajarinya. Apalagi setelah masuknya berbagai pengaruh modern dan dibangku sekolah mereka diajarkan bahwa kepercayaan leluhur mereka adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tradisi penyembahan terhadap berhala dan roh-roh. Bahkan seorang pemuda setempat yang ingin memiliki tato tengkorak, ketika kami tanya kenapa dia tidak ingin dibuat tato Mentawai, pemuda belasan tahun tersebut mengatakan bahwa tato Mentawai dan kepercayaan leluhurnya—Arat Sabulungan— adalah kepercayaan setan.

Pada tahun 1970 dan 1980an ketika Orde Baru dengan ganas-ganasnya membasmi kepercayaan animisme suku-suku di pedalaman, masyarakat di Matotonan juga mengalaminya. Aman Eriana menceritakan bagaimana ia mendampingi istrinya yang ditangkap polisi pamong praja dan dibawa ke Muara Sikabaluan untuk bekerja memberishkan jalan, membuka ladang sebagai sangsi atas kepercayaan lelehurnya yang mereka anut dan tato yang menghiasi tubuhnya.

Aman Derei Kerei juga menceritkan hal yang sama. Yang ia ingat mereka lebih dari seratus orang ditangkap dan diburu dan dua puluh orang berasal dari Matotonan. Selain diburu, alat-alat upacara mereka di bakar dan mereka ditodong dengan senjata laras panjang. Jika ketahuan petugas ada sanak famili dari mereka yang meninggal dan mereka melakukan upacara Arat Sabulungan maka mereka mesti membawa lari mayat tersebut ke dalam hutan. Jika tidak aparat polisi yang kadang juga disertai KORAMIL setempat akan menangkap dan tak jarang memukuli mereka. Salah seorang dari polisi tersebut bernama Nico. Bahkan kepala desa sebelum yang sekarang ini juga melarang tradisi tato dan segala yang berhubungan dengan Arat Sabulungan.

Aman Sogagi adalah sikerei (dukun) paling muda yang kami temui di desa Mototonan. Ia berusia 40an. Seorang sikerei, selain memiki pengetahuan tentang obat-obatan, mereka juga dianggap punya pengetahuan untuk menghubungkan manusia yang ada di dunia ini dengan roh-roh leluhur dan alam. Kami sangat berterimakasih kepada Ibu Srimulyani dari Laboratorium Antropologi FISIP Universitas Andalas yang memungkinkan kami sampai ke tempat ini. Sebelum tradisi ini benar-benar punah seperti yang terjadi di pulau Pagai dan Sipora. Dari desa ini bersama dukungan sikerei-sikerei yang tesisa kami akan melakukan pendokumentasian dan bersama mereka melakukan workshop tato. Beberapa orang sikerei sudah bersedia untuk melanjutkan tatonya yang belum selesai karena represi yang dilakukan Orde Baru. Dengan mesin tato yang kami bawa dari Jakarta, Durga akan melalukan kolaborasi dengan Tegora Manai. Master Tato yang tersisa di pedalaman Matotonan—salah satu banteng terakhir dari tradisi tato Mentawai dan kepercayaan leluhur mereka: Arat Sabulungan.

Kamis, 29 April 2010 di 13.30

0 Comments to "Tradisi Tato Mentawai: Dihancurkan Secara Sistematis"

Poskan Komentar