Macam/Jenis Perlindungan Flora Dan Fauna / Hewan Dan Tumbuhan - Metode Pelestarian Alam

Flora dan fauna adalah kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan sangat berguna bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya di bumi. Untuk melindungi binatang dan tanaman yang dirasa perlu dilindungi dari kerusakan maupun kepunahan, dapat dilakukan beberapa macam upaya manusia dengan Undang-Undang, yaitu seperti :

1. Suaka Margasatwa
Suaka margasatwa adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada hewan/binatang yang hampir punah. Contoh : harimau, komodo, tapir, orangutan, dan lain sebagainya.

2. Cagar Alam
Pengertian/definisi cagar alam adalah suatu tempat yang dilindungi baik dari segi tanaman maupun binatang yang hidup di dalamnya yang nantinya dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan di masa kini dan masa mendatang. Contoh : cagar alam ujung kulon, cagar alam way kambas, dsb.

3. Perlindungan Hutan
Perlindungan hutan adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada hutan agar tetap terjaga dari kerusakan. Contoh : hutan lindung, hutan wisata, hutan buru, dan lain sebagainya.

4. Taman Nasional
Taman nasional adalah perlindungan yang diberikan kepada suatu daerah yang luas yang meliputi sarana dan prasarana pariwisata di dalamnya. Taman nasional lorentz, taman nasional komodo, taman nasional gunung leuser, dll.

5. Taman Laut
Taman laut adalah suatu laut yang dilindungi oleh undang-undang sebagai teknik upaya untuk melindungi kelestariannya dengan bentuk cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata, dsb. Contoh : Taman laut bunaken, taman laut taka bonerate, taman laut selat pantar, taman laut togean, dan banyak lagi contoh lainnya.

6. Kebun Binatang / Kebun Raya
Kebun raya atau kebun binatang yaitu adalah suatu perlindungan lokasi yang dijadikan sebagai tempat obyek penelitian atau objek wisata yang memiliki koleksi flora dan atau fauna yang masih hidup.

Jumat, 30 April 2010 di 09.06 , 0 Comments

Rencana & Strategi Balai Kliring Kehati 2005-2010

MISI

Memberikan kontribusi secara signifikan dalam implementasi Konvensi Keanekaragaman Hayati beserta program tematik dan isu lintas tema, khususnya target 2010 melalui promosi dan fasilitasi kerjasama ilmiah dan teknis diantara Negara Pihak, Pemerintah dan stakeholders lainnya



TUJUAN, SASARAN DAN AKSI-AKSI YANG HARUS DILAKUKAN OLEH BALAI KLIRING KEHATI NASIONAL BERDASARKAN PROGRAM KERJA KONVENSI KEANEKAGAMAN HAYATI SAMPAI 2010



Tujuan 1: Mempromosikan dan memfasilitasi kerjasama ilmiah dan teknis





1.1. Balai Kliring Kehati memberikan kontribusi dalam implementasi konvensi khususnya pencapaian target 2010



Identifikasi dan mengimplementasikannya peluang-peluang untuk memfasilitasi kerjasama ilmiah dan teknis yang akan meningkatkan kapasitas untuk mengimplementasikan aksi-aksi prioritas dalam Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003-2020



1.2. Balai Kliring Kehati memfasilitasi transfer dan kerjasama teknologi





Identifikasi dan mengimplementasikannya peluang-peluang untuk memfasilitasi transfer teknologi yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan aksi-aksi prioritas dalam Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003-2020





Tujuan 2:Mempromosikan dan memfasilitasi pertukaran informasi diantara Negara Pihak, Pemerintah dan Stakeholder lainnya



2.1. Balai Kliring Kehati menyediakan informasi terkait dengan Konvensi dan Konvensi menyediakan melalui sarana elektronik dan tradisional





Balai kliring menyediakan informasi tentang kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk implementasi Konvensi



2.2. Balai Kliring Kehati bekerjasama dengan para pemrakarsa, organisasi, dan partner lainnya memfasilitasi akses dan repatriasi informasi tentang keanekaragaman hayati



* Mempublikasikan informasi melalui Balai Kliring tentang proyek digitasi data pengamatan dan koleksi herbarium data spesimen;
* Mempromosikan akses terbuka terhadap data pengamatan yang sudah didigitasi dan data spesimen di koleksi herbarium serta mengembangkan jaringan distribusi data terbuka;
* Mempromosikan partisipasi dalam proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nasional untuk mendigitasi, mengakses dan menggunakan data pengamatan elektronik serta data spesimen dari koleksi herbarium dan mempublikasikan hasilnya;
* memfasilitasi akses terhadap data dan informasi yang relevan seperti genetik, pengamatan, lingkungan, geospatial dan literatur ilmiah

2.3. Balai Kliring Kehati membantu negara pihak dan pemerintah lainnya dan organisasi yang relevan dalam menyediakan data dan informasi dalam mendukung kegiatan-kegiatan implementasi Konvensi dan pencapaian target 2010

* Mendorong kerjasama teknis dengan menyediakan, termasuk dalam website, tentang keahlian teknis, teknologi informasi baru, GIS dan data modelling;
* Mengembangkan dan mempublikasikan informasi tentang sumber-sumber yang disyaratkan untuk membantu negara pihak dalam pencapaian target 2010;
* Memfasilitasi akses terhadap database nasional tentang informasi keanekaragaman hayati

Tujuan 3:Beroperasi secara penuh dengan partisipasi seluruh negara pihak dan memperluas jejaring





3.1. Semua negara pihak yang sudah membangun dan yang sedang mengembangkan Balai Kliring Kehati melalui pendanaan berkelanjutan

* Melakukan studi untuk pendanaan berkelanjutan, dukungan dan investasi;
* Negara pihak yang belum membangun Balai Kliring dapat menggunakan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF) untuk membangunnya;
* Negara pihak yang sudah membangun diharapkan berpartisipasi dalam program-program pelatihan untuk membantu negara pihak lainnya yang belum membangun Balai Kliring

3.2. Partner yang relevan berpartisipasi dalam pengembangan jejaring Balai Kliring Kehati

*
Mengembangkan partnership dengan jejaring yang ada;
*
Mempublikasikan informasi melalui Balai Kliring tentang kegiatan-kegiatan dari jejaring partner

3.3. Negara pihak yang sudah membangun Balai Kliring Kehati dan menggunakan mekanisme yang efektif untuk memfasilitasi kerjasama ilmiah dan teknis, termasuk jejaring tematik bilamana sesuai, dalam mendukung implementasi Konvensi dan pencapaian target 2010

*
mengidentifikasi area kerja, dimana jejaring antar pakar berjalan secara aktif, akan memfasilitasi aksi-aksi prioritas dalam dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003-2020 dan menjajaki pengembangan jejaring

3.4. Balai Kliring Kehati memberikan kontribusi untuk mengembangkan jejaring komunikasi, edukasi dan penyadaran masyarakat secara global

*
Berpartisipasi dalam pengembangan modul-modul pendidikan untuk membantu implementasi kegiatan-kegiatan terkait dengan implementasi Konvensi;
*
Menyusun modul-modul pelatihan tentang pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi berbasis-web terbaru untuk digunakan dalam pelatihan dan workshop;
*
Mendukung kegiatan-kegiatan untuk menciptakan jejering pendidikan keanekaragaman hayati dan pelatihan;
*
Meningkatkan penggunaan sarana komunikasi elektronik dan teknologi berbasis-web yang memfasilitasi pertukaran dan diseminasi informasi tentang Balai Kliring dan kegiatannya

di 09.04 , 0 Comments

Daftar Istilah

Keanekaragaman Hayati


Keanekaragaman Hayati merupakan keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya, daratan, lautan dan ekosistem akuatik lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragmannya; mencakup keanekaragaman di dalam spisies, antara spisies dan ekosistem


Agro-ekosistem

Sistem pertanian yang didasarkan ada hubungan timbal balik antara sekelompok manusia dan lingkungan fisiknya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia.


Agroforestri

Sistem-sistem dan teknologi tata guna lahan dimana pepohonan berumur panjang (termasuk semak, palem, bambu, kayu, dll) dan tanaman pangan dan tau pakan ternak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang dan waktu


Arboretum

Tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan


Biogeografi

Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi.


Biopirasi (biopiracy)

Eksplorasi dan pemanfaatan pengetahuan local dan sumber daya genetis tanpa pengetahuan ataupun persetujuan pemiliknya/masyarakat setempat.


Bioprospecting (bioprospeksi)

Penilaian terhadap sumberdaya genetic dan sumber daya hayati. Dalam praktiknya kegiatan ini dibarengi dengan munculnya isu-isu hak kepemilikan intelektual, pembagian keuntungan yang adil dan merata, serta dampak negatif akibat pemanfaatan produk rekayasa genetis.


Bioregion

Kawasan/lingkungan fisik yang pengelolaanya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi, tetapi oleh batasan geografi, komunitas manusia serta system ekologi. Dengan demikian, bioregion jugamempunyai pengertian ekoregion, yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat.


Bioteknologi

Penerapan teknologi berbasis ilmu biologi untuk memanfaatkan makhluk hidup bagi kebutuhan manusia.


Cagar Biosfer

Kawasan di dalam suatu negara yang mendapat yang mendapat status khusus dari Negara-negara yang tergabung dalam program Man and Biosphere (MAB) dibawah UNESCO, sebagai kawasan konservasi khusus dengan fungsi ekonomi, ekologi dan social.



Cagar Warisan Dunia (World Heritage Site)

Menurut World Heritage Convention yang dikeluarkan oleh UNESCO, ada dua kategori
1) “Cultural World Heritage” mengacu pada monumen, karya arsitektur, pahatan dan lukisan, elemen atau struktur arkeologis, prasasti, gua-gua hunian, dan kombinasi dari unsure-unsur tesebut yang secara universal sangat bernilai tinggi dari sisi sejarah, seni dan ilmu pengetahuan.

2) “Natural World Heritage” mengacu pada ekosistem, habitat atau kelompok formasi geologis dan fisiografis beserta spesies flora dan fauna yang terancam


Sumber Daya Hayati


mencakup sumber daya genetik, organisme atau bagiannya, populasi atau komponen biotik ekosistem -ekosistem lain dengan manfaat atau nilai yang nyata atau potensial untuk kemanusiaan


Kawasan Terlindungi


mrupakan kawasan yang ditetapkan secara geografis yang dirancang atau diatur dan dikelola untuk mencapai tujuan konservasi yang spesifik


Pemanfaatan berkelanjutan


merupakan pemanfaatan komponen-komponen keanekaragaman hayati dengan cara dan pada laju yang tidak menyebabkan penurunnannya dalam jangka panjang, dengan demikian potensinya dapat dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi-generasi masa kini dan masa depan


Bioteknologi

merupakan penerapan teknologi yang menggunakan sistem-sistem hayati, makhluk hidup atau derivatifnya, untuk membuat atau memodifikasiproduk-produk atau proses-proses untuk penggunaan khusus


Ekosistem

kompleks komunitas tumbuhan, binatang dan jasad renik yang dinamis dan lingkungan tak hayati/abiotik-nya yang berinteraksi sebagai unit fungsional


Konservasi ex-situ


Konservasi komponen-komponen keanekaragaman hayati di luar habitat alaminya


Material Genetik


merupakan bahan dari tumbuhan, binatang, jasad, renik atau masal lain yang mengandung unit-unit fungsional pewarisan sifat (heriditas)


Sumber Daya Genetik


bahan genetik yang mempunyai nilai nyata atau potensial




Habitat

tempat atau tipe tampak tempat organisme atau populasi secara alami


Kondisi in-situ


kondisi sumber daya genetik yang terdapat di dalam ekosistem dan habitat alami, dan dalam hal jenis-jenis terdomestikasi atau budaya, didalam lingkungan tempat sifat-sifat khususnya bertahan


Konservasi In-situ


merupakan konservasi ekosistem dan habitat alami serta pemeliharaan dan pemulihan populasi jenis-jenis budaya hidup dalam lingkungan alaminya, dan dalam hal jenis-jenis terdomestikasi atau budidaya, di dalam lingkungan tempat sifat-sifat khususnya berkembang

di 09.03 , 0 Comments

Pembangunan dan Pengembangan Taman Keanekaragaman Hayati

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat keterancaman dan kepunahan spesies tertinggi di dunia, dari dunia flora sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan langka, sebagian besar adalah kerabat tanaman budidaya. Berdasarkan kondisi tersebut Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Universitas Negeri Semarang (UNES) Jawa Tengah, telah melakukan upaya konservasi eksitu melalui kegiatan Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati yang dilaksanakan di areal Kampus UNES di desa Gunung Ledek Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah.



Hasil dari kegiatan ini adalah:

1. Terbangunnya Kemitraan dan komitmen antara Universitas Negeri Semarang (UNES) dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk melestarikan keanekaragaman hayati tumbuhan lokal Jawa Tengah (MOU).
2. Terbangunnya Disain keanekaragaman hayati yang didasarkan pada jenis tanaman, jenis tanah dan kontur tanah.
3. Penanaman 15.000 tanaman (39 jenis tumbuhan lokal Jawa Tengah) pada lahan seluas 15 Ha.
4. Terbangunnya Data base 39 Jenis tumbuhan lokal Jawa Tengah
5. Peningkatan Pemahaman Masyarakat melalui penyuluhan dan sosialisasi keanekaragaman hayati
6. Pemberdayaan masyarakat melalui keterlibatan dalam penanaman dan pemeliharaan.



Taman Keanekaragaman Hayati Jawa Tengah telah diresmikan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup pada tanggal 27 November 2008 dan secara simbolis turut menanam tumbuhan lokal Jawa Tengah. Peresmian ini dihadiri oleh Sesmen KLH, Deputi III KLH, Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Kemitraan KLH, Gubernur Jawa Tengah dan segenap jajarannya, Rektor UNES dan Mahasiswa UNES.


Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman Pemda dan masyarakat dalam menyelamatkan berbagai spesies tumbuhan dari ancaman kepunahan melalui pembudidayaan asli daerah.

di 09.00 , 0 Comments

Country Profile

Nama negara
:

Indonesia

Bentuk pemerintahan
:

Republik

Ibu kota negara
:

Jakarta

Koordinat Geografis
:

5 00 LS, 120 00 BT

Lokasi
:

Asia Tenggara, kepulauan antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik

Batas Negara
:

Timor Timur (228 km), Malaysia (1,782 km), Papua Nugini (820 km)

Bahasa
:

Bahasa resmi : Bahasa Indonesia
Bahasa kedua : Inggris

Wilayah
:

Total: 1,919,440 km2
Luas perairan : 93,000 km2
Luas daratan : 1,826,440 km2
Panjang garis Pantai: 54,716 km
Batas teritorial laut : 12 mil
Zona Ekonomi Eksklusif : 200 mil

Jumlah Pulau
:

17.000 (6.000 tidak berpenghuni)

Iklim
:

Tropis

Musim
:

Kemarau (Juni ? Oktober)
Hujan (November ? Mei)

Populasi
:

234.893.453

Struktur Umur
:

0-14 tahun : 29.7% (laki-laki 35,437,274; perempuan 34,232,824)
15-64 tahun : 65.4% (laki-laki 76,743,613; perempuan 76,845,245)
65 tahun : 4.9% (laki-laki 5,086,465; perempuan 6,548,032)

Tingkat pertumbuhan populasi
:

1.52%

Tingkat harapan hidup
:

Laki-laki : 66.54 tahun
Perempuan : 71.47 tahun

Etnis
:

Jawa 45%, Sunda 14%, Madura 7.5%, Melayu 7.5%, lainnya 26%

Agama
:

Islam 88%, Kristen Protestan 5%, Katolik 3%, Hindu 2%, Budha 1%, lainnya 1% (1998)

Bentang lahan
:

Dataran pantai dan pegunungan

Elevasi
:

Titik terendah : Samudera Hindia 0 m;
Titik tertinggi : Puncak Jayawijaya 5,030 m

Sumber daya alam
:

Minyak, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tembaga, batubara, emas, dan perak
Keanekaragaman Hayati

Indonesia merupakan salah satu megadiverse country, yang terletak dalam lintasan distribusi keanekaragaman hayati benua Asia (Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan) dan benua Australia (Pulau Papua) serta sebaran wilayah peralihan Wallacea (Pulau Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara).



Walaupun hanya melingkupi 1,3% dari luas total daratan dunia, Indonesia memiliki keanekaragaman spesies satwa yang sangat tinggi yaitu 12% (515 spesies, 39% endemik) dari total spesies binatang menyusui; 7,3% (511 spesies, 150 endemik) dari total spesies reptilia; 17% (1531 spesies, 397 endemik) dari total spesies burung; 270 spesies amfibi, 100 endemik; 2827 spesies binatang tidak bertulang belakang selain ikan air tawar. Selain itu Indonesia memiliki 35 spesies primate, 18% endemik; 121 spesies kupu-kupu, 44% endemik; 1400 spesies ikan air tawar (Dephut 1994; Mittermeier dkk. 1997).



Dalam hal keanekaragaman tumbuhan, Indonesia memiliki lebih dari 38.000 spesies, 55% endemik. Keanekaragaman palem mencapai 477 spesies, 225 endemik. Spesies penghasil kayu bernilai ekonomi penting (dari famili Dipterocarpaceae ) mencapai 350 spesies, 155 endemik (Dephut, 1994; Newman 1999).



Keanekaragaman terumbu karang mencapai lebih dari 480 spesies karang keras mencakup sekitar 60% dari spesies karang yang telah diidentifikasi di dunia ( Dahuri dan Dutton, dalam Burke dkk. 2002). Keanekaragaman ikan karang mencapai lebih dari 1650 spesies (Suharsono dan Purnomohadi, dalam Burke dkk. 2002).



Keanekaragaman hayati memberikan nilai konsumsi dalam bentuk pangan, sandang maupun papan. Masyarakat Indonesia mengonsumsi tidak kurang dari 100 spesies tumbuhan biji-bijian dan ubi-ubian sebagai sumber karbohidrat. Tidak kurang dari 100 spesies kacang-kacangan, 450 spesies buah-buahan serta 250 spesies sayur-sayuran dan jamur juga digunakan dalam menu makanan masyarakat, sementara 940 spesies tanaman menghasilkan bahan untuk obat tradisional (KMNLH, 1997). Berbagai spesies liar dari hutan seperti Pasak bumi ( Euriycoma longifolia ), Tabat barito ( Ficus deltoidea ), dan Akar kuning ( Arcangelisia flava ), serta berbagai spesies budidaya seperti Jahe ( Zingiber officinale ), Kunyit ( Curcuma domestica ), Kencur ( Kaempferia galanga ), Kumis Kucing ( Orthosiphon aristatus ) dan Kapulaga ( Amomum cardamomum ) juga telah digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh masyarakat local. Beberapa spesies seperti Kayu angin dan Tapak dara bahkan telah digunakan sebagai bahan obat modern. Lebih dari 100 spesies kayu, 56 spesies bamboo dan 150 spesies rotan juga telah digunakan masyarakat untuk membangun rumah dan membuat peralatan rumah tangga (KMNLH, 1997)



Keanekaragaman hayati memberikan nilai pasar dari perdagangan baik di pasar lokal, nasional maupun internasional. Sepanjang dekade 1970-1980-an, ekspor produk kehutanan merupakan komoditas ekspor nonmigas serta sumber penerimaan negara yang penting (Resosudarmo, 2000). Sementara untuk tahun 1998 ekspor rumput laut menghasilkan devisa sebesar US$ 45 juta dan eskpor produk perikanan setara dengan US$ 2 miliar untuk tahun 2000 (Dirjen P3K-DKP 2001). Penjualan domestik produk jamu olahan mencapai Rp. 200-400 miliar pada tahun 1999 dan terus meningkat sebesar 10% setiap tahunnya (Putterman 1999). Penjualan domestic produk hutan non kayu seperti terpentin, minyak kayu putih, kopal dan sutera, memberikan kontribusi setara Rp. 41 miliar bagi perekonomian dalam negeri (Departemen Kehutanan, 2000)

di 08.56 , 0 Comments

Flora & Fauna Identitas Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki sumberdaya alam hayati yang tinggi dan tersebar di seluruh pelosok tanah air. Kekayaan sumberdaya alam hayati menjadi tumpuan baru bagi pembangunan nasional selain penggunaan sumberdaya alam takterbarukan seperti minyak bumi dan gas alam.

Kemajuan pembangunan nasional terus berlanjut menuju era industrialisasi, sementara itu pemantauan mutu lingkungan memerlukan perhatian khusus sebagai dampak dari sisi lain pembangunan nasional, meskipun Indonesia telah menganut azas pemanfaatan secara lestari namun kerusakan lingkungan akibat pembangunan tidak dapat dihindarkan.

Upaya pemanfaatan kekayaan sumberdaya alam hayati tidak dapat terlepas dari UUD 1945, khususnya Pasal 33 Ayat (3) yang berbunyi "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Rakyat". Pengertian dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat tidak berarti pemanfaatannya dilakukan dengan semena-mena namun juga harus memperhatikan aspek-aspek keserasian, keselarasan, keseimbangan, keadilan yang merata dan berkelanjutan, baik bagi generasi masa kini maupun yang akan datang.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk tetap menjaga keutuhan dan keberlanjutan dari sumberdaya alam hayati yang dapat terperbarukan sebagai tumpuan pembangunan saat ini, sehingga daya dukung lingkungan tetap seimbang. Ditetapkannya Undang-undang No.4 Tahun 1982 mengenai Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang­undang No. 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam. Hayati dan Ekosistemnya serta Undang-undang No. 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragam Hayati), mencerminkan bahwa Pemerintah tidak mengabaikan keberadaan lingkungan yang tetap utuh dan seimbang sehingga tidak mengkhawatirkan bagi generasi penerusnya.
Sumberdaya alam hayati yang meliputi keanekaragaman flora dan fauna mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup yang kehadirannya tidak dapat diganti. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan memiliki kedudukan serta berperan penting bagi kehidupan manusia, maka upaya konservasi sumberdaya alam hayati flora dan fauna menjadi kewajiban mutlak bagi setiap generasi.

Upaya-upaya konservasi tidak akan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan tanpa dukungan dan peran serta aktif dari segenap lapisan masyarakat. Oleh karena itu salah satu upaya yang dianggap strategis dan efektif oleh Pemerintah adalah dengan menetapkan berbagai macam kekayaan sumberdaya alam hayati tersebut ke dalam bentuk Identitas Flora dan Fauna Daerah. Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah merupakan upaya nyata yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Dengan ditetapkannya Flora dan Fauna Identitas Daerah Tingkat I ini dapat dilanjutkan pula dengan pemilihan Flora dan Fauna di Tingkat II, Kecamatan dan Desa. Diharapkan dengan demikian akan dapat mendorong upaya-upaya perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan secara berkelanjutan sumberdaya alam hayati flora dan fauna baik oleh aparat Pemerintah di Daerah maupun masyarakat secara keseluruhan sampai dengan ke Tingkat II bahkan Kecamatan dan Pedesaan.

di 08.55 , 0 Comments

KIMONO JEPANG

Kimono yang dikenal sekarang ini berbentuk seperti huruf “T”, berupa mantel berkerah yang panjangnya sampai ke pergelangan kaki. Kimono untuk pria terdiri dari setelan atas-bawah, sedangkan kimono untuk wanita berbentuk baju terusan.

Kimono bukanlah sebuah pakaian yang mudah dikenakan apalagi disebut simple, ada tata cara khususnya lho, tidak sembarangan bahkan terkadang perlu seorang yang ahli untuk membantu mengenakannya, tata cara itu disebut Kitsuke. Untuk memakai Kimono tidak boleh asal, harus disesuaikan dengan keperluanya, singkat kata jenis-jenis kimono, hingga aksesori harus sesuai dengan acaranya.

Bahan Kimono sangat bernilai karena acap kali ditenun dan dijahit dengan menggunakan tangan (hand made) kebayang kan mahalnya? dan lagi Kimono ukurannya harus disesuaikan dengan orang yang mau memakainya sehingga harus pesan jika ingin memilikinya, jarang ditemui Kimono yang sudah jadi, tetapi Kimono modern ada juga kok toko atau butik yang memajangnya, sudah dalam keadaan siap pakai plus aksesorinya, tapi tidak dijamin bakal ngepas sama bodi kamu-kamu.

Untuk wanita Kimono dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :

Tomesode
Tomesode adalah jenis kimono yang paling formal, umumnya berwarna hitam dan hanya dikenakan oleh wanita yang sudah menikah.

Furisode
Furisode adalah kimono formal untuk wanita muda yang belum menikah. Ciri khas Furisode pada bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian.

Homongi
Homongi (secara harafiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita yang sudah menikah atau wanita dewasa yang belum menikah. Homongi dikenakan wanita yang sudah menikah untuk menghadiri resepsi pernikahan, pesta-pesta resmi, Tahun Baru, atau upacara minum teh.

Iromuji
Iromuji kimono semiformal yang bisa dijadikan kimono formal jika mempunyai lambang keluarga (kamon). Bahan umumnya tidak bermotif dan berwarna merah jambu, biru muda, kuning muda atau warna-warna lembut lainnya. Iromuji dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan atau upacara minum teh.

Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semi formal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Tsukesage biasa dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan, pesta resmi, Tahun Baru, atau upacara minum teh yang sifatnya tidak begitu resmi.

Komon
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas pada motif sederhana yang kecil-kecil yang berulang. Komon bisa dikenakan untuk menghadiri pesta alumni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.

Tsumugi
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas Tsumugi pada bahan yang merupakan bahan tenunan sederhana dari katun atau benang sutera kelas rendah yang tebal dan kasar sehingga kimono jenis ini tahan lama. Pada zaman dulu, Tsumugi digunakan untuk bekerja di ladang.

Yukata
Yukata adalah jenis kimono santai yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis yang dipakai untuk kesempatan santai di musim panas.

Kimono juga memiliki asesoris, yang sangat variatif, diantaranya :

Hakama
Hakama adalah semacam celana panjang yang dikenakan pria yang juga terbuat dari bahan berwarna gelap. Hakama berasal dari daratan Tiongkok dan mulai dikenal sejak zaman Asuka. Hakama umumnya dikenakan pendeta kuil Shinto . Di kalangan olah raga tradisional Jepang seperti Kendo dan Kyudo, Hakama dikenakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.

Geta
Geta adalah sandal dari kayu yang mempunyai hak, dipakai oleh pria maupun wanita yang memakai Yukata. Geta berhak tinggi dan tebal yang dipakai oleh Maiko disebut Pokkuri

Junihitoe
Junihitoe adalah kimono 12 lapis yang dipakai oleh wanita Jepang zaman dulu di istana kaisar.

Kanzashi
Kanzashi adalah hiasan rambut seperti tusuk konde yang disisipkan ke rambut sewaktu memakai kimono.

Obi
Obi adalah sabuk dari kain yang seperti stagen yang dililitkan ke badan pemakai untuk
mengencangkan kimono

Tabi
Tabi adalah kaus kaki sepanjang betis yang dibelah dua pada bagian jari kaki untuk memisahkan jempol kaki dengan jari-jari kaki yang lain. Tabi dipakai sewaktu memakai sandal, walaupun ada Tabi dari kain keras yang dapat dipakai begitu saja seperti sepatu bot.

Waraji
Waraji adalah sandal dari anyaman tali jerami.

Zori
Zori adalah sandal tradisional Jepang yang bisa terbuat dari kain atau anyaman sejenis
rumput (Igusa).

Kamis, 29 April 2010 di 14.01 , 0 Comments